Monthly Archives: July 2008

I LOVE YOU. BEYOND THE REASON WHY.

I love you. I really do.

Itu adalah potongan dialog dari sebuah film di Star Movies tadi pagi. Lucu, yang mengatakan those three magic words adalah seorang lelaki kecil, umurnya paling tidak 10 tahun, lengkap dengan perawakan pendek dan gendut ;).

Entah kenapa, kata-kata ini jadi terasa unik di Rabu pagi ini, entah karena bocak cilik ini cukup imut dan lucu, atau karena subtitle nya dalam bahasa Malaysia (thus, the sentence would be like : “saya cintakan awak” and stuff ;P). My thoughts just ran through few years behind, to my very first word of “I love you”. Wew, it’s been a while; huahaha. Tapi seriously, coba deh, inget-inget pertama kali menerima ucapan ini dari siapa, dan mengucapkan nya pertama kali ke siapa. See? It has been a while, ladies and gentlemen J.

Perhaps, you said it (or were told so) in the middle of a beautiful park, while having a romantic dinner, playing in the play ground, or just in the school yard (or, if your junior high doesn’t have a yard, let’s just say you did it in front of the class). Maybe it was in the morning, afternoon, evening, or as a compliment in ‘goodnite greeting’. Maybe it was ‘face to face’ conversation, or else. That is just the media; since the message is still the same: a love expression for the first love.

(ok, this line gives you more time to think about him/her;) )

How you take advantage of the fact

That I love you beyond the reason why

Just this afternoon, I was having a little chat with a friend. Saya memiliki beberapa teman baik yang berpasangan, I mean, they are couple. Jadi kedua orang dari pasangan itu adalah teman saya. Banyak yang malah sudah saya kenal sebelum jadian, thus it makes them even funnier to me (at first, of course). Banyak juga yang baru saya kenal ketika mereka telah berpasangan, biasanya saya mendapat teman baru dari teman cowok saya alias pasangan mereka; dengan predikat sebagai ‘temen pacar’ (atau yang ekstrim, karena saya dicurigai sebagai ‘temen deket’)

Singkat cerita, temen saya ini merasa tidak cocok dengan pasangannya. Ketidakcocokan ini sebenarnya kerap kali dirasakan dalam hubungan mereka yang sudah cukup lama. Mulai dari hobi, favorite things and stuff, sampai beberapa konsep berpikir.

Sampai suatu saat, salah satu memutuskan untuk putus. Nah, tentunya yang satu merasa keberatan. Alasannya, harusnya ada kesempatan kedua untuk berubah; biar gapnya bisa diperkecil. Tapi alasan temen saya cukup membuat saya tertegun: “Iya si Yosh, mungkin aja abis itu aku bisa suka lagi. Tapi berarti itu karena dia berubah.”

Ding! Yepp, right. There goes the other chance for the couple to get together again. Seperti kata Rihanna di bait lagu di atas; you just love that someone, ga harus pake alasan. Kalo emang mereka cocok, ga peduli kegiatan ekstrakurikuler mereka, fakultas, temen-temen yang beda, seharusnya mereka bisa melewati itu semua. Bahkan, tadi saya sempat terpikir, kalo mereka saling mencintai, bukan tidak mungkin kalo cara pikir yang beda juga ngga akan mampu bikin mereka pisah (walau yang cara pikirnya beda, usually don’t make a couple at all).

Otherwise, kalo emang ga cocok dari awal, mau semuanya juga sama, ngga akan ada hasilnya L. Sad, really; but it is true.

Moral of the story: mungkin pikir-pikir dulu kalo mau ngerubah temen atau pacar, semua perubahan itu harus dateng dari dirinya, bukan karena orang lain ^^.

Spread that unconditional love!!

Tada, kimi wo aishiteru…

6 Comments

Filed under crossed LYRICS, crossed the HEART, crossed things about THEM

Cerita Pohon, Daun, dan Angin

Pernah dengar tentang kisah pohon, daun, dan angin? I read this story for the first time when I was in junior high through e-mail. Buat yang belum pernah denger, let me share it once again di postingan kali ini.

Pohon dan Daun telah lama bersama. Mereka berkenalan pada suatu saat dimana Daun baru saja tumbuh di salah satu dahan si Pohon ketika dia masih muda. Sejak saat itu, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Daun mengagumi Pohon, Pohon menyayangi Daun. Daun menunjukkan perasaannya kepada seluruh dunia-betapa dia sangat mengagumi Pohon. Pohon, dibatasi oleh egonya, tidak bersusah-susah untuk menunjukkan rasa sayangnya. “Daun akan selalu ada di sini”, demikian pikir Pohon. “There is no need to show special things, for she already knows I will always be there”, tambah Pohon. Demikianlah, Pohon dan Daun terus bersama.

Sampai suatu saat, Pohon bertemu dengan daun-daun lain. Daun-daun itu merupakan teman baru yang baik baginya, sehingga Daun pun tidak diacuhkan lagi. “Daun tidak akan keberatan”, pikir Pohon; dan memang benar, Daun tidak protes ketika temannya ‘diambil’ perhatiannya oleh daun lain. Apalagi ketika Daun berkenalan dengan Angin, yang datang semilir dan selalu ada ketika Pohon sibuk; Daun tidak merasa sepenuhnya sendirian. Angin mendengarkan cerita Daun setiap kali dia berhembus di sekitar Daun-yang semakin sering dia lakukan.

Dan suatu waktu, Angin mengajak Daun untuk pergi. Bersama menjelajahi bumi dan mengunjungi tempat-tempat dimana angin dapat berhembus-seperti yang juga kerap diceritakan oleh Angin. “Pergi? Meninggalkan Pohon?” pikir Daun. Daun sangat tidak yakin akan rencana ini pada awalnya. Namun dia juga yakin bahwa keberadaannya tidak penting lagi bagi Pohon; tidak ketika Pohon memiliki sangat banyak teman dan tidak memedulikan Daun.

 

Bisa nebak ending of the story? Yup, daun terbang meninggalkan Pohon. Pertanyaannya adalah: Apakah Daun pergi meninggalkan Pohon karena diterbangkan Angin? Atau karena Pohon just didn’t ask her to stay?

 

Sometimes, life puts a person you care about some choices that he or she may fails in choosing. Bahkan, those choices even contains yourself. Dalam hidup kita bisa saja menjadi Daun, Angin, atau bahkan Pohon. The moral of the story for me is actually how I would deal with it. Kebanyakan kita never actually know what we have until it’s gone. As stated in a song by Craig David: you don’t miss your water til the well runs dry.

 

Cheers!!

Leave a comment

Filed under crossed LYRICS, crossed the HEART

M.O.M.E.N.T.S

Believe me, I can still find the strength

of the moments we made.

I’m looking back on yesterday…

 

Pernah punya moments? Kalo menurut kamus saya (sebenernya si nyadur2 dikit dari kamus bahasa Indonesia n Inggris, cuman males ngebuka aja, hehe), moments berarti kenangan. Nah, kenangan ini yang bisa memiliki banyak arti dan interpretasi. Bisa saja kenangan tentang barang, orang, tempat; semuanya bisa berdiri sendiri atau saling berkaitan. Misalnya saya memiliki kenangan barang dengan sebuah barang, foto misalnya, bisa saja karena di foto itu saya sedang memakai baju khusus (hanya karena saya suka/berdiri sendiri) atau fakta bahwa foto tersebut diambil waktu saya masih kecil dan dikirim pada ayah yang sedang bertugas di luar kota (karena itu foto untuk papa/ada kaitannya dengan orang lain). Atau saya memiliki kenangan dengan neighborhood saya waktu kecil, karena di sanalah I’m having my first crush (kenangan dengan orang lain) atau karena di tempat itu saya mendapatkan boneka besar pertama saya, yaitu waktu saya berumur sekitar 5 tahun (kenangan dengan benda).

Enough about the definition anyway. Dari banyak pengamatan saya terhadap hidup (baik milik sendiri maupun milik orang lain), kenangan banyak tercipta dari hubungan dengan orang lain. Entah itu dengan keluarga, teman (pergaulan, in all means), dan tentunya pacar. Dalam banyak kenangan, saya percaya banyak yang bisa kita lupakan, tapi akan kita rindukan suatu saat nanti. Coba ingat terakhir kali berhubungan dengan sepupu atau keluarga jauh lain (karena saya yakin kalau mengenai keluarga dekat-ayah, ibu, kakak-adik, kita hampir pasti membuat kenangan baru sesering mungkin, walau tidak bersama). Atau kali terakhir bercanda dengan teman lama, ngobrol dengan mantan pacar atau mantan gebetan.

 

Terkhusus untuk sub kalimat terakhir, banyak sahabat cowok saya mengatakan bahwa wanita itu adalah makhluk yang sangat kuat dalam menyimpan perasaan (baca: rasa suka kepada seseorang). Sebagai salah satunya, saya mengakui bahwa hal itu tidak selamanya salah. Beberapa kali, saya kerap menyalahkan diri untuk selalu mengingat orang-orang di masa lalu. Istilah “menunggu untuk sekian tahun” pun sering menjadi topik lucu-lucuan saya dan beberapa sahabat. Bodoh? Mungkin iya, tapi saya tidak merasa keadaan ini cukup menyedihkan untuk kemudian menghentikannya. Somehow, I just like him, with no further plan to show any of this feeling; or just want to see him happy with my very own eyes; that is just enough.

 

Seperti dilagukan oleh Leona Lewis dalam Yesterday

They could take tommorow and the plans we made

They could take the music that we’ll never play

They could take the future that we’ll never know

They could take the places that we said we will go

All the broken dreams, take everything

But they can never take yesterday…

Menarik ya? Bahwa ternyata kita ga harus hanya melototi masa depan (and fight for whatever it is in that future). Hari kemaren dan masa lalu, bukan hanya tidak dapat diubah, but also incredibelly untouchable by anyone else.

 

Sebagai penutup, this very last sentence which actually is a part of a song by my friend’s indie band may describe my feeling to that someone-how I would like to see him:

all that silly things we I would like to remember

Cheers!!

 =)

 

 

2 Comments

Filed under crossed LYRICS, crossed the HEART

THIRD YEAR,,

This month is exactly the end of my 6th semester here in School of Business and Management. Karena total semester yang ada di SBM itu 9 semester, so yes, I am attending my final year (thanks for the applauses, hehe).

 

As you may say that I am a final-year-student whatsoever, this time I would like to write about my future planning realted to elective courses I’m taking next semester. Jadi di SBM itu ada 6 majors atau kelompok keahlian yang dianjurkan untuk diambil oleh mahasiswa. Majors itu adalah: Finance (Keuangan), Marketing (Pemasaran), Human Resource (Sumber Daya Manusia), Operation (Operasi), Entrepreneurship (Kewirausahaan) dan Decision Making (Pengambilan Keputusan).

Let’s just discuss all of them one by one; but to be honest, I was not there at the presentation of each major and can not give you exact information (but hey, this blog IS containing everything in my mind, so I think it would be fine, hehe).

 

Finance atau keuangan adalah kelompok keahlian yang cukup klasik dalam ilmu manajemen; yet, masih belom terlalu tua untuk ditinggalkan. Menurut gue si, itu mungkin karena sampe kapan juga kita masih akan berhubungan dengan yang namanya duit. Klise sih, tapi uang yang dulunya kaum manusia ciptakan untuk mempermudah hidup ternyata malah sulit untuk dikendalikan sehingga perlu cabang ilmu untuk mempelajari flow dan sifat-sifatnya. (siiffaaattt,, udah kayak anjing, haha). Di SBM  sendiri, major ini cukup terkenal karena banyak ngitung (ya iya lah, masa uang ga diitung); dan diakui banyak banget gunanya, apalagi untuk mengembangkan cara pikir as well as persiapan untuk buka bisnis, hehe.

 

Marketing atau pemasaran juga ilmu yang klasik, walau mesti diakui kalo kehebohannya baru terasa belakangan ini. Seperti namanya, major ini lebih menekankan how to actually deliver our product to the market (or customers, as you may call it). Banyak orang bilang kalo marketing itu lebih ke bagian iklan, tapi buat gue, major ini banyak explore di bagian konsep juga, soalnya seperti yang sering dikatakan orang: marketing is both science and art. Selain itu, karena ilmu ini banyak berhubungan dengan community, bisa dibilang pergerakannya cukup dinamis mengikuti konsep berpikir masyarakat.

 

Human Resource management adalah ilmu yang justru, menurut gue, mendapat jati diri baru belakangan ini. Face it, ketika kita berbicara soal HR, yang ada di otak pasti soal administrasi, pegawai, keluhan, pegawai, dll. Hanya saja, kalo kita perhatikan belakangan ini, HR sebagai jantung dari para pegawai (apalagi yang berhubungan dengan kesejahteraan), memiliki peran baru dalam bidang penentuan strategi. Unlike old days, kesejahteraan pegawai menjadi poin penting dalam banyak perusahaan, as many people does not really depend on the number of wages anymore.

 

Operation atau operasi, adalah inti dalam perusahaan. Either gue mau open business atau hanya doing my life, gue percaya bahwa ilmu ini akan selalu dibutuhkan. Tapi harus diakui, tanpa proper soft skills, operation bisa sangat useless. Makanya, akan sangat baik kalau operation bisa dikuasai, karena logikanya bisa sangat kepake di masa depan.

 

Entrepreneurship adalah konsep baru di dunia, bahkan di SBM sekalipun. May I mention that this major is actually having its first year this 2008. Sehubungan dengan memang dibutuhkannya konsep bisnis yang oke dan bisa meramaikan dunia usaha, entrepreneurship bisa menjadi jawaban; bahkan bisa sangat membantu keadaan ekonomi kita. Adapun entrepreneurship di SBM dibagi menjadi 2: e-track dan management in technology.

 

Sedangkan Decision Making adalah major yang bener-bener baru dan gue, sayangnya, ga tau banyak. Pada intinya, as I may interpret from the names of the courses, DM adalah ilmu yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan, just like its name (well, seems like I am handling this thing ‘sotoy’ly, haha).

 

Now, it is the time to write my elective courses, as I have proposed to administration for undergraduate two days ago in SBM. Setelah berdiskusi dengan banyak teman dan anak angkatan 2008 (thank you sooo much you guys!), gue akhirnya memutuskan untuk mengambil 4 electives finance, 3 marketing, dan 1 operation. Those are as followed (drumroll please? Thank you):

 

          Finance: Managerial Accounting, Capital Market, Business Risk dan Venture Capital, dan Financial Planning

          Marketing: Market research, Shopper behavior, Brand management

          Operation: Quality management

Dalam menentukan elective courses ini, gue mempelajari beberapa hal; bahwa ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi kita dalam mengambil mata kuliah pilihan (ga wajib!)

          Karena ilmunya (yeah, right, kiss the *ss). True, emang sih klise banget, tapi emang kurang lebih ini harus dipertimbangkan dalam memilih. Apalagi ini menyangkut TA (duh, this scary word getting even scarier for me these times); so at least, we need to consider this thing more carefully. Bukannya gue udah punya topik atau gimana (please deh, mending juga mikirin jalan-jalan atau apaaa gituu), tapi paling ngga gue memilih mata kuliah itu karena gue pikir itu berguna untuk penulisan TA gue (yang sampai sekarang sih masi seputar masalah investment).

          For the grades. Hoho, ga bisa dipungkiri, masalah nilai itu penting. Sedikit curhat, dalam beberapa mata kuliah wajib, ada dosen yang memberlakukan pemberian nilai secara distribusi normal; alhasil, yang dapet nilai A hanya 15-20% dari angkatan! Bukannya ngerengek atau gimana, cuman menurut gue itu agak berlebihan, dan gue lebih suka kalo ada batas nilainya, jadi lebih jelas aja. Hehe

          Karena penasaran. Banyaaaakkk banget mata kuliah baru di angkatan gue. Terbukti dari diskusi sama anak angkatan atas yang terkadang langsung ended up with: “gue ngga ngambil” atau “ga pernah denger” atau “itu kayaknya baru deh”. Misalnya mata kuliah financial planning dan brand management (yang gue ambil) atau islamic banking (sumpah, kalo ada spare elective 2 mata kuliah lagi, I will think about taking this course). Bukan cuma namanya yang attractive, tapi juga karena belom ada yang ngambil sebelum kita, jadi somehow, adrenalin kita jadi naik. Hahaha.

          Karena pengen tau. Kenapa gue membedakan dengan penasaran? Karena alasan ini berlaku buat gue di course Capital Market. So I’ve heard that this course is mainly about economics life and shares. Saham has been taking my attention for a long time; yet, belom gue ngertiin dari sekarang. Makanya, gue ngambil karena pengen tau gimana caranya. Haha, gila emang, tapi kadang kita emang harus nyebur dulu.

          Karena janjian sama temen. Ini termasuk fenomena yang biasa terjadi dalam berbagai kalangan mahasiswa, karena memang akan lebih mudah menghadapi apapun juga together, than by ourselves alone.

 

Ok, think that’s all!! Bye!!

Leave a comment

Filed under crossed the COLLEGE DAYS

BERUANG AKTOR!!

This afternoon, I watched Hancock. No other words, Will Smith is a super duper handsome man ever! I really love him! (well Dad, u’re still my numero uno, anyway)

I love him, really. This movie is just another genious project of his. Emang, film superhero belakangan ini banyaaaakk banget. You name it: Ironman, Hulk, Superman, Spiderman, KungfuPanda (lho?? Hahaha). Tapi Hancock stands itself out: very human. Plot dan cara deskripsi soal personal life dari Hancock mungkin ga detail, malah terkesan sangat buru-buru, but again, sangat manusiawi.

 

– soal kemampuan superhero nya, Hancock is pictured as kuat dan sangat suka menolong orang, tapi karena sikap arogannya dan kasar, Hancock ga diterima sama  masyarakat-pihak yang harusnya mengidolakan dia. Untuk itulah dia perlu bantuan seorang PR-public relation. Yes, you read it right, a PR for a superhero. Seems funny, right? Tapi ternyata itu membuktikan bahwa engga semua superhero itu super ramah seperti Superman, Spiderman, atau sangat galak tapi lupa ingatan kayak Hulk.

 

superhero tetep cute. Ada satu peryataan dalam film kalo Hancock itu cute. Well, when it comes to Will Smith, none will doubt it (did I say already that ‘I love him’? Well, I already promised myself to type those kinds of statements-that I like him!- like more than 5 times, so count on if you like, hehe), included me! Mau dari awal film waktu dia masih super berantakan karena suka mabok dan kerjaannya nyampah n tidur mulu, sampe waktu dia akhirnya pake baju super ketat yang agak terkesan homo, Will Smith is looking very fine all the time, nana, I’m in love!

 

– di film ini, Hancock itu ternyata semacam dewa-dewi gitu. Paling ngga, itu yang dibilang sama Mary ‘istri’ Hancock sekaligus istri dari Ray-si PR; dan Mary is actually one of his community-or else, as she didn’t say or call it specifically. Mereka immortal. One sweet thing, it was mentioned that they are created in pairs. Jadi Mary dan Hancock itu akan selalu bersama. Kayak yang Mary bilang: “No matter how far I run, he will always there!”. Hmm, I have no objections of having Will Smith running after me, anyway. Hahaha!

 

I also love the way he accepted the fact that they should not be together. Jadi ceritanya adalah, the closer they are, the weaker they will be. Dan pada akhirnya, mereka ga immortal lagi, alias bisa mati. Waktu ditanya kenapa gitu, jawabannya lebih mengharukan lagi: biar mereka bisa merasakan hidup sebagai manusia; sakit, bahagia, mencintai, tua, mati. Moreover, apa yang dirasain sama salah satunya, the other will suffer the same thing. Mengharukan banget, waktu Hancock ‘melarikan diri’ dari Mary, dan keduanya bisa makin kuat. Walau penuh air mata gitu, dia tetep aja keren, and I love him.

 

– oia, ada satu adegan lagi, yaitu waktu Aaron, anak dari Ray-yang diasuh sama Mary, of course- ngasih mainan favoritnya ke Hancock, waaa, he seems sooo nice and fatherly. Geezz, I really could dream him as my man. Hahaha.

 

Oia, one out-of-Will’s-personal-scene adalah bagian dia berkelahi dengan Mary. Biasalah ya, berhubung mereka pasangan dan sama-sama superhero, pertengkaran rumah tangganya cukup heboh bo! Haha, pake angin ribut, beberapa gedung rusak, and so on. Tapi oke banget deh effect nya. Hehehe.

 

Buat orang-orang yang belom nonton banyak film cowok aku yang satu ini (atau malah belom tau Will Smith itu yg mana?? Oh my God, YOU need help!); ni beberapa recommended movies: “Men In Black”, “I, Robot”, “Pursuit of Happiness”, “I am Legend”, “Hitch”, banyak deh. Or you can just google him, after clicking ‘new tab’ button. Bye!

 

Cheers!! ^^

 

(my room, June 17 2008, 8 PM-soon after I got home!)

 

PS: kenapa judulnya ‘beruang aktor’? soalnya Will Smith kayak beruang! Ya iya lah, dengan tinggi 180 cm dan berat sekitar 100 kg, he really is my actor bear! Hehe.

10 Comments

Filed under crossed WORDS and SCENES